Senada dengan Arcandra, Rektor Unand Dr. Efa Yonnedi mengatakan, target Unand adalah menjadi Botanical University pada beberapa tahun ke depan. Penggunaan listrik melalui energi hijau PLTMh akan sejalan dengan target ini.
Bukti keseriusan menjadi Botanical University, Unand saat ini telah memiliki Pusat Pengolahan Sampah Terpadu (PPST) yang mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif. PPST mengelola sampah organik dan ranting kering menjadi bakar alternatif yang dapat digunakan oleh PLN dan pabrik semen.
“PPST Unand sudah eksis mengelola produksi sampah di Unand. Sampah dan ranting kering yang diolah menjadi residu biomassa kering. Selain menjadi solusi dari timbunan sampah produktif, ini menjadi komitmen Unand menuju Bonatical University. Selanjutnya kami berkomitmen menuntaskan PLTMh hingga beroperasi dan menjadikan Unand percontohan Botanical University yang memiliki lokasi riset pembangkit EBT,” ujar Efa.
General Manager PLN UID Sumbar, Eric Rossi Priyo Nugroho terpisah menyampaikan, saat ini hampir 52 persen listrik yang dikonsumsi masyarakat wilayah Sumatera Barat berasal dari EBT.
Pembangkit EBT tersebut terdiri dari tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan total kapasitas 252,91 MW, 1 unit pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), 2 unit pembangkit listrik tenaga gas (PLTG), dan belasan PLTMh.
‘’Total pasokan Sumbar mencapai 731,4 MW dimana mayoritas diproduksi dari pembangkit EBT. Total pasokan PLTMh sendiri mencapai 41,6 MW. Sumbar masih memiliki potensi pengembangan PLTMh yang sangat besar, kami sangat mendukung jika Unand dapat mengelola potensi ini dengan baik,” ujar Eric. (*/002)