PADANGPARIAMAN, KabaTerkini.com – Di tengah hiruk pikuk politik pemilihan wali nagari (Pilwana) Serentak Padang Pariaman 2026, muncul figur tak terduga.
Ya, selama ini pemimpin khususnya di Ranah Minang ada pada sosok laki-laki. Namun kali ini, perempuan yang dihormati sebagai Bundo Kanduang ikut turun membuktikan diri seiring membawa angin perubahan.
Dengan semangat filosofi ada membawa kemajuan di Ranah Minang, muncul dua nama perempuan yang sedang menorehkan sejarah baru. Mereka adalah Sherly Maretha Sonia dan Nurmalini Rosi.
Duo perempuan “piaman” ini bukan sekadar calon, mereka adalah bukti hidup bahwa Ranah Minang tidak lagi hanya menyimpan cerita bundo kanduang di rumah gadang, tetapi juga siap menyaksikan mereka memimpin langsung di balai nagari.
Tahun 2026 menjadi saksi perubahan: perempuan Minang tak lagi hanya penjaga pusako, tapi juga pembawa obor kemajuan. Dahulu, peran perempuan di Ranah Minang begitu mulia namun terbatas dalam ruang domestik dan adat.
Sebagai bundo kanduang, mereka adalah limpapeh rumah nan gadang — pemegang kunci harta pusaka, pendidik generasi, dan penjaga harmoni keluarga serta kaum dalam sistem matrilineal.
Pepatah Minang menggambarkan mereka sebagai pusat kekuatan: pemimpin sosial di balik layar, pengayom anak cucu, dan penjaga adat istiadat. Namun, kepemimpinan formal seperti Wali Nagari hampir selalu menjadi domain laki-laki.
Perempuan berperan besar di balik layar, mendukung suami, anak, dan masyarakat melalui PKK, organisasi wanita, atau musyawarah adat, tapi jarang menduduki kursi pemimpin tertinggi di nagari. Kini, angin perubahan berhembus kencang.
Di era demokrasi nagari yang semakin terbuka, perempuan Minang tidak hanya melanjutkan warisan keibuan, tetapi juga mengambil peran publik yang lebih luas. Pendidikan yang semakin merata, kesadaran hak politik, dan dukungan budaya matrilineal yang sebenarnya memberi ruang bagi perempuan, mendorong mereka maju ke garis depan.
Sherly Maretha Sonia dari Nagari Toboh Gadang Timur merupakan mantan duta dan istri tokoh masyarakat setempat. Dia menjadi satu-satunya calon perempuan di nagarinya pada Pilwana serentak 27 Juni 2026 nanti.
Sementara Nurmalini Rosi dari Nagari Sikucua Tengah. Dengan tekad tulus mendaftarkan diri untuk membangun nagari melalui amanah dan musyawarah.
Kedua figur ini bukan hanya calon, melainkan inspirasi. Mereka membuktikan bahwa perempuan Minang mampu menggabungkan nilai adat dengan visi modern: transparansi, pembangunan inklusif, dan kepemimpinan berbasis gotong royong.
Di tengah Pilwana yang melibatkan puluhan nagari, kehadiran mereka memecah tradisi dan membuka pintu bagi generasi berikutnya.
Wahai putri-putri Minang, saatnya bangkit!
Emansipasi bukanlah meninggalkan adat, melainkan memperkaya dan memajukannya. Jika Sherly dan Nurmalini berani melangkah, mengapa figur yang lain tidak Anda? Mari dukung kepemimpinan perempuan yang amanah, berintegritas, dan berpihak pada kesejahteraan nagari. (*/red)












