JAKARTA, KabaTerkini.com – Edward Wilson Junior mengutarakan niatnya ingin kembali ke Semen Padang FC. Pemain asal Liberia itu merupakan striker gacor Kabau Sirah di era coach Nil Maizar.
Edu sapaan akrab Edward Wilson memang menjelma menjadi striker predator bagi Semen Padang. Namanya bersinar karena keganasanya mencetak gol. Dia berhasil mendekati 100 gol selama 5 musim bersama Semen Padang.
Pada tahun 2008 sampai 2014, Edu merupakan striker asing paling tajam di Indonesia Super League waktu itu. Dia paling ditakuti penjaga gawang, sehingga namanya begitu melegenda tak hanya di Padang, namun juga di Indonesia.

Di era Edu bersama Esteban Vizcarra, Hyu Yun Ko, Stephen Menoch, David Pagbe, Vendry Mofu, Ellie Aiboy, Titus Bonai, Nur Iskandar dan Elcapitano Hengky Ardiles, Semen Padang FC tampil menggila hingga sukses meraih gelar juara Liga Indonesia 2011.
Tak hanya sukses di Liga Indonesia, keberhasilan juara mengantarkan Semen Padang tampil di level Asia AFC Cup mewakili Indonesia.
Tak tanggung-tanggung, Edu juga mencatatkan namanya sebagai salah satu top scorer. Penampilanya yang memukau itu membuat Edward Wilson dilirik klub-klub besar Asia.
Saat tampil di podcast Sport77 yang dipandu Mamat Alkatiri, Edu mengakui sepanjang karir profesionalnya, Semen Padang adalah klub terbaiknya.
Tak hanya sukses di lapangan, pemain kelahiran Liberia 1984 itu mengakui Padang adalah kota paling berkesan baginya.
Dia berkisah dalam perantauanya ke Indonesia, Edu bukanlah pemain berstatus bintang atau pemain mahal.
Di kota kelahiranya di Liberia, Edu memulai karir di liga 3 yang hanya digaji makan gratis saja, duitnya tidak ada. Karena bakatnya berkembang, berikutnya dia memperkuat klub liga 2 yang sukses dihantarkanya ke liga 1 Liberia sampai juara.
“Keluarga saya kurang mampu. Awalnya bapak saya tak setuju saya main bola, karena tak ada duitnya. Namun setelah dia menonton dan melihat bakat saya, akhirnya dia mendukung,” tutur Edu yang sudah berkeluarga mempersunting gadis asal Kediri Jawa Timur ini.
Karena di Liberia minim pulus, dia nekat bermain di luar negeri. Indonesia bukanlah tujuan awal baginya, melainkan Jerman. Namun karena terkendala Visa akhirnya dia sampai ke Indonesia.
“Saya ke Indonesia juga diajak teman yang duluan main disini. Karena saya merantau mencari klub, belum ada yang kenal saya. Bahkan Perserang Serang, klub pertama yang ikut saya seleksi tidak berminat dengan saya.”
“Saya ditolak, gagal dapat klub di Indonesia. Balik pulang ke Liberia tak mungkin, malu juga pulang. Kata teman saya sabar dulu disini. Sampai 6 bulan saya menumpang dengan dia,” ungkap Edu.
Setelah 6 bulan tanpa klub, lanjut Edu, saya dapat informasi klub Semen Padang menggelar seleksi disini. Waktu itu pelatihnya Joko Susilo yang sebelumnya melatih Persiram Raja Ampat.
“Setelah seleksi, saya lolos akhirnya berangkat ke Padang. Sampai di Padang tinggal di lingkungan pabrik semen itu. Saya ingat di mess, saya masih ingat sekamar dengan Gusrifen Efendi. Orang Padang baik-baik, makananya juga enak. Pedas sama seperti di Liberia,” sebut Edu.
Dari kisah perjalanan karirnya itulah, banyak suka duka perjuangan klub serta karirnya gemilang, Edu mengungkapkan kecintaanya dengan Semen Padang. Begitu sebaliknya Edward juga jadi idola masyarakat Sumatera Barat hingga dikasih julukan “Mak Itam”.
Ketika ditanya Mamat, jika seandainya Semen Padang minta edu membantu klub sekarang? Bisa membantu melatih striker atau bidang teknis lainnya?
Edu menjawab dengan semangat, “Saya sangat siap dan rindu sekali balik ke Padang!”. (*/002)












