PADANG, KabaTerkini.com – “Cuma di media sosial.” Kalimat lirih itu keluar dari bibir seorang ibu yang menangis di hadapan Atta Halilintar.
Itu bukan sekadar keluhan, melainkan ungkapan luka mendalam dari para korban banjir bandang di Sumatra yang merasa bantuan nyata tak kunjung datang, sementara berita terus simpang siur.
Hati Atta bergetar hebat mendengarnya. Tak mau hanya berdiam diri di balik layar ponsel, suami Aurel Hermansyah ini memutuskan terbang pukul 3 pagi menuju lokasi bencana.
Niatnya satu, memastikan saudara-saudara kita di sana tidak berjuang sendirian melawan rasa lapar dan dingin.
Tanpa canggung, Atta turun langsung menerobos sisa-sisa lumpur, memanggul karung beras, dan membagikan sembako ke titik-titik pengungsian.
Ia ingin membuktikan bahwa viralnya sebuah bencana di media sosial seharusnya menjadi alarm untuk menggerakkan bantuan nyata, bukan sekadar tontonan.
Atta menyadari bahwa apa yang dibawanya belum cukup untuk membasuh duka ribuan korban di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Namun, langkah kakinya menjadi pesan kuat bagi kita semua. Bahwa kepedulian bukan dinilai dari seberapa keras kita bicara, tapi seberapa cepat kita bertindak.












