PLN UID Sumatera Barat mengajak para jurnalis untuk melihat langsung proses produksi listrik dari hulu (pembangkit) hingga hilir (manfaat) menjadi sumber kehidupan ekonomi masyarakat. Kegiatan bertajuk Roadtrip Media PLN UID Sumbar itu hampir setiap tahun dilaksanakan.
***
PADANG, KabaTerkini.com – Pernah anda merasakan listrik padam? Rasanya seperti dunia berhenti berputar, karena kita tidak bisa beraktifitas. Sebab, sekarang listrik kebutuhan pokok dalam perjalanan ekonomi masyarakat.
Berkat listrik, roda ekonomi masyarakat berputar. Dari manfaat listrik untuk hasil pertanian maksimal, listrik untuk peralatan rumahtangga hingga listrik untuk industri dan perkantoran.
Pada kegiatan Roadtrip Media PLN UID Sumbar tahun lalu, penulis berkesempatan menyaksikan langsung begitu pentingnya manfaat listrik dalam kehidupan masyarakat.
Listrik tidak hanya sumber energi lampu untuk menerangi kehidupan masyarakat malam hari, namun sekarang listrik juga sumber energi bagi tanaman pertanian sehingga bisa menghasilkan panen meningkat.
Melalui program Electrying Agriculture PLN, banyak sekali tercapai peningkatan panen petani. Seperti pertanian buah naga, pertanian bawang hingga tambak udang.
Pada kesempatan ini, penulis mengisahkan manfaat listrik yang diproduksi PLTA Singkarak hingga sampai masuk sawah petani untuk menerangi pertanian masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung sehari penuh itu dilepas langsung oleh GM PLN UID Sumbar waktu itu dijabat Ajrun Karim, di kantor PLN Sumbar Jalan DR Wahidin Sawahan, Kota Padang.
Pada kegiatan tersebut, rombongan berjumlah 30 wartawan media cetak, elektronik dan online itu diagendakan mengunjungi sejumlah lokasi untuk melihat langsung pengelolaan unit-unit PLN Group dan perusahaan pengguna layanan listrik PLN yang telah berhasil mendapat manfaat signifikan efisiensi berkat penggunaan listrik PLN.
Sejumlah lokasi yang diagendakan dikunjungi dalam kegiatan dari pagi hingga malam ini antara lain PLTA singkarak, petani buah naga yang menggunakan electrifying agriculture, mitra electrifying agriculture huller listrik di Kota Solok, electrifying agriculture petani bawang di Talang Babungo, dan Solok Radjo di Lembah Gumanti.
Melihat Dapur Listrik di PLTA Singkarak

Rombongan jurnalis dibuat takjub dan terkesima begitu masuk ke pabrik listrik PLTA Singkarak yang berlokasi di Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman.
Siapa sangka, ternyata pembangkit listrik berada dalam perut bukit. Jika kita lihat biasa pembangkit listrik di atas bumi, tapi ternyata bukan di PLTA Singkarak. Mesin turbin pembangkit itu berada dalam perut bumi.
Jadi, dari sumber airnya yang berasal dari Danau Singkarak, Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok yang berada di dataran tinggi perbukitan barisan Sumatera Barat, lalu dialirkan berpuluh kilometer melalui terowongan besar dan panjang ke Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman yang merupakan dataran rendah.
Dapat dibayangkan, dari puncak bukit air meluncur kencang ke dasar lembah. Itulah yang memutar 4 turbin PLTA Singkarak. Karena sumber airnya dari Danau Singkarak itu nama PLTA Singkarak berasal meskipun posisi pembangkitnya di Lubuk Alung.
Mungkin masih banyak yang tidak tau terutama generasi Z sekarang. Pembangkit listrik PLTA Sinkarak itu berada dalam perut bukit dimana harus memasuki terowongan panjang untuk masuk kesana.
Kemudian, terowongan air PLTA Singkarak terpanjang di Indonesia dimana panjang terowongan dari Danau Singkarak, Sumpur Kudus Tanah Datar sampai ke Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman.
PLTA Singkarak merupakan salah satu pembangkit listrik terbesar menjadi andalan PLN untuk menerang Sumatera Barat.
PLTA Singkarak dibangun tahun 1992 hingga dioperasikan tahun 1998. PLTA Singkarak memiliki kapasitas terpasang sebesar 4 x 43,75 MWatt (175 MW).
Disel Boros, UMKM Lebih Untung dengan Listrik PLN

Program electrifying agriculture PLN mulai dirasakan pelaku UMKM dan petani di Sumbar.
Pemilik Huller Nadira, Yon Harmen di Jorong Batu Palano Kenagarian Salayo Solok mengakui besar sekali manfaat listrik PLN untuk menjalankan operasional penggilingan padinya. Dengan listrik PLN, dia mampu mampu memangkas biaya produksi dibanding pakai diesel sendiri. Dengan demikian, biaya produksi berkurang, hasil bisa lebih menguntungkan.
Karena sebelumnya, dia membutuhkan 33 liter solar atau sebesar Rp 330.000 sehari untuk hasil 4 ton. Jika seminggu produksi hanya lima hari maka, jumlah biaya BBM yang harus dikeluarkan sekitar Rp 1.650.000. Namun semenjak memakai listrik token, untuk masa kerja selama 5 hari seminggu itu hanya menghabiskan biaya sebesar Rp 1 juta dengan hasilnya mencapai 5-6 ton.
Program Electrying Agriculture Tingkatkan Pendapatan Petani

Program Electrying Agriculture juga dirasakan manfaatnta oleh petani buah naga yang berada di Aripan Bawah, Kecamatan X Koto, Kabupaten Solok, Agus Susiloadi.
Pria yang sudah merintis usahanya seluas 1 hektare sejak 2020 silam ini, mengaku, hasil panen buah naganya yang berjumlah sekitar 1.200 batang mengalami peningkatan, sejak dirinya menggunakan listrik sebagai pembantu percepatan fotosintesis.
Jika sebelumnya hasil yang didapat tidak menentu, namun sejak memakai listrik, dirinya bisa panen hingga 15 kali dengan waktu panen yang relatif pendek yakni sekitar 21 hari, dengan hasil mencapai 500 ton. Dibandingkan sebelumnya yang bisa mencapai 28 hari.
Tak hanya petani buah naga, petani bawang setempat juga merasakan keuntungan. Dengan penerangan lampu dari listrik PLN, para petani dapat mengendalikan hama bawang.
Seperti yang akui oleh Pemilik Kebun Bawang di Alahanpanjang, Amri Ismail. Dirinya menerapkan sistem light trap atau cahaya lampu untuk mengusir serangga dan hama.
Dalam penerapannya, juga cukup dengan meletakan ember berisikan air di bawah cahaya lampu 6 watt. Dengan sendirinya, serangga dan hama akan berkumpul di bawah cahaya lampu, dan jatuh ke dalam ember. Ada sebanyak 62 light trap yang dipasang di kebun bawang seluas 1 hektare miliknya.
Dengan keberhasilan program electrying agriculture PLN tersebut, diharapkan Sumatera Barat yang merupakan daerah pertanian dapat dimaksimalkan. Sehingga, tak hanya UMKM, petani naga dan bawang, namun seluruh sektor pertanian bisa maju dan berkembang bersama PLN. (*/Penulis Syofiarti Sisja (Icha), Editor KabaTerkini.com)












